Diseminasi VUB Padi Terbaru dan Varietas Toleran Kekeringan Perkuat Swasembada Pangan
Serang, 02/07/2026 — Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten melaksanakan kegiatan Diseminasi Varietas Unggul Baru (VUB) padi terbaru dan varietas padi toleran kekeringan sebagai bagian dari dukungan terhadap Program Strategis Kementerian Pertanian dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.
Acara ini merupakan bagian dari kegiatan Diseminasi Standar Instrumen Pertanian sebagai salah satu tusi utama dari BRMP Banten. Diseminasi yang berlangsung di Aula Jawara dan IP2MP Singamerta BRMP Banten ini diikuti oleh perwakilan Kelompok Substansi Penyuluhan Provinsi Banten, Katimker, Korluh, dan penyuluh pertanian lingkup Kota Serang dan perwakilan penyuluh Kabupaten Serang, serta petani sebagai upaya mempercepat penyebarluasan inovasi teknologi hasil riset kepada pengguna di lapangan.
Ketua Kelompok Penerapan dan Penilaian Kesesuaian BRMP Banten, ST. Rukmini, S.P., M.Si.
, mewakili Kepala BRMP Banten menyampaikan bahwa penyuluh merupakan ujung tombak keberhasilan adopsi inovasi di tingkat lapangan. Sebagai tahap awal dilakukan pengenalan VUB, dan selanjutnya para peserta diperlihatkan performa tanaman secara langsung di lahan IP2MP Singamerta. Harapannya, para peserta bisa menentukan pilihan terhadap adopsi VUB tersebut. Varietas Unggul Baru (VUB) padi yang diperkenalkan adalah Inpari 51, Inpari 52, Inpari 53, dan Inpari 54 yang telah didemonstrasikan di IP2MP Singamerta, serta varietas padi gogo toleran kekeringan, yaitu Inpago 12 dan Inpago 13 Fortiz sebagai solusi menghadapi perubahan iklim dan musim kemarau.
Bertindak sebagai narasumber adalah Ketua Tim Kerja Penerapan dan Diseminasi BRMP Banten, Iin Setyowati, S.P., M.Sc
yang menyampaikan materi Karakteristik 4 Varietas Unggul Baru (VUB) padi terbaru dan 2 VUB toleran kekeringan tersebut. Keenam varietas tersebut merupakan hasil inovasi pemuliaan tanaman yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Inpari 51 memiliki umur panen sekitar 112 hari dengan potensi hasil mencapai 9,28 ton GKG/ha, berkarakter tanaman tegak, tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, serta sesuai dikembangkan pada lahan sawah irigasi. Inpari 52 Nayanika mempunyai potensi hasil 9,09 ton GKG/ha, tekstur nasi pulen, serta memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap hawar daun bakteri dan penyakit blas. Sementara itu, Inpari 53 Winaya menjadi varietas dengan potensi hasil mencapai 10,15 ton GKG/ha, jumlah gabah per malai yang tinggi, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III. Inpari 54 Arunika memiliki potensi hasil hingga 10,27 ton GKG/ha, tekstur nasi pulen, dan ketahanan yang baik terhadap hawar daun bakteri maupun penyakit blas sehingga menjadi salah satu varietas berdaya hasil tinggi yang direkomendasikan untuk lahan sawah irigasi.
Peserta juga diperkenalkan dengan Inpago 12 Agritan yang memiliki potensi hasil mencapai 10,2 ton GKG/ha, toleran terhadap kekeringan dan keracunan aluminium sehingga sesuai dikembangkan pada lahan kering subur maupun masam hingga ketinggian 700 mdpl. Sementara Inpago 13 Fortiz memiliki potensi hasil 8,11 ton GKG/ha, tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, agak toleran terhadap keracunan aluminium, serta memiliki keunggulan kandungan protein dan zinc pada beras sehingga berpotensi mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Kehadiran kedua varietas tersebut menjadi alternatif bagi petani dalam menghadapi kondisi iklim yang semakin tidak menentu.
Sebagai tindak lanjut kegiatan, peserta melakukan kunjungan lapangan ke lahan sawah IP2MP Singamerta BRMP Banten untuk mengamati secara langsung pertumbuhan seluruh varietas yang didiseminasikan. Melalui kegiatan ini diharapkan penyuluh pertanian dapat menjadi agen diseminasi inovasi yang mampu mempercepat adopsi Varietas Unggul Baru di tingkat petani, sehingga produktivitas padi terus meningkat dan target swasembada pangan nasional dapat diwujudkan secara berkelanjutan.